DPRD BAHAS PRAKTEK MAPPANRETASI

Humas Setwan – Kegiatan Mappanretasi lebih dikenal sebagai pesta laut. Merupakan Pesta Adat diselenggarakan oleh masyarakat etnis Bugis sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rezeki yang dilimpahkan di Pantai Pegatan Tanbu. Ternyata kegiatan ini masih menjadi pertanyaan oleh segilintir pemerhati yang menilainya tanda kutip, “kata H. Supianyah,ZA,SE,MH selaku pimpinan rapat saat membuka Rapat Dengar Pendapat pada Senin (02/07) baru baru tadi.

Kegiatan ini sudah menjadi agenda tahunan Tanah Bumbu bahkan sudah masuk dalam kalender tahunan wisata nasional bahkan ada yang datang dari mancanegara walaupun masih sedikit. Sebetulnya acara ritual adat yang menjadi ramai diperbincangkan ketika ada opini yang menilai syirik dalam prateknya, ” ungkap H.Supiansyah.

H. Supiansyah Ketua DPRD mengatakan, “semestinya ini tidak terjadi, jika semua pihak memahami dan tidak mempermasalahkannya. tradisi ini ditemurunkan oleh nelayan keturunan Bugis, Mappanretasi kini sudah dianggap sebagai budaya bagi semua suku yang tinggal di Tanah Bumbu, jika pun terjadi perbedaan tidak perlu menjadi persoalan dalam pelaksanaannya, tinggal diperbaiki saja, ” ujarnya.

Ketua DPRD berharap Penyelenggaranya selain melibatkan Pemerintah Kabupaten setempat dan unsur Muspida, juga lembaga-lembaga adat dari beragam suku yang ada di Tanah Bumbu bersama-sama menyatukan maksud dan tujuan agar tidak terjadi kesalah pahaman, ” paparnya.

Rapat ini menghadirkan Sekda, Dinas Kepemudaan Olahraga, Kementerian Agama, Polres, kades Gusunge, Kades Wiritasi,, Pajala, Juku Eja, MUI , NU, Muhamamadiah dan KKB (kerukunan keluarga besar) Dato Latakko dan Siti Maimunah (sanro), Lembaga Adat Ogie, Tokoh Masyarakat, Ustads Iwan dan Abbas dari hadral maut.

Ketua MUI Kab.Tanbu KH. Fadli Muis yang berkenan hadir dalam raker ini mangatakan, ” bahwa Majelis Ulama Indonesia fungsinya untuk mengayomi ummat dan menyikapi apa yang terjadi pada ummat Islam pada khususnya, ” kata KH. Fadli Muis.

Menurutnya semenjak tahun 1967 ketika masih masuk dalam pemerintahan kotabaru sudah disikapi tentang pelaksanaan Mappanretasi ini dan bahkan ketika beralih menjadi Pemerintah kabupaten Tanah Bumbu ada perubahaan arti katanya, ” ungkap Ketua MUI Tanbu ini.

Sementara itu keturunan Dato Latakko dan Siti Maimunah yang merupakan sanro pertama dalam pelaksanaan mappanretasi meminta klarifikasi bahwa praktek yang mereka lakukan turun temurun bukan termasuk perbuatan syirik, namun merupakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rezeki yang dilimpahkan dan hanya menilai sebagai kegiatan budaya peninggalan nenek moyang etnis bugis pagatan, bahkan katanya keturunan mereka ada yang menjadi ustad lulusan dari negeri arab, ” ungkap H. Saleh selaku juru bicara keturuan dato Latakko.

Relddn/hms

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *