KOMISI II TANBU PANGGIL PENGUSAHA SAWIT AKIBAT HARGA TBS JATUH

Humas Setwan – Komisi II DPRD Kabupaten Tanah Bumbu panggil pengusaha kelapa sawit yang ada di Tanah Bumbu akibat jatuhnya harga tandan segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani, antara lain akibat terjadi selisih cukup besar dengan harga pabrik pada senin (10/09) baru-baru tadi saat rapat kerja DPRD Komisi II dengan Dinas Pertanian dan Perusahaan Perkebunan Sawit.

Harga TBS kelapa sawit  di tingkat petani di Kabupaten Tanah Bumbu berkisar Rp 875 s/d Rp.1.070 per kg atau selisih ± Rp 300 dengan pabrik kelapa sawit (PKS) yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Rp 1.200 sampai Rp 1.400 per kg, “ungkap Parman, anggota dewan dari partai PDIP ini saat di gelar rapat tersebut.

Menurut Parman dalam monitoringnya terungkap rendahnya harga sawit di level petani, antara lain akibat terjadi selisih cukup besar dengan harga pabrik. Faktornya lantaran terjadi rantai penjualan sawit yang cukup panjang dari petani ke pabrik. “Rendahnya harga di petani, karena rantai penjualan ke perusahaan panjang. Dari petani lewat agen, kemudian ke pemegang surat pengantar (SP) dan timbangan baru ke perusahaan,” jelasnya.

Tentu rendahnya harga sawit itu memukul perekonomian penduduk masyarakat kecamatan mentewe, karang bintang, sungai danau dan lainnya. Sebab mayoritas warga tersebut menggantungkan hidup dari komoditas kelapa sawit, “tambah anggota dewan dari dapil IV ini

Padahal kata Parman, di bulan kemarin panen petani sawit yang biasanya hanya 4 ton saja menjadi meningkat sampai pada 11 ton. Harapan mereka bisa untung besar tetapi kenyataannya malah menjadi rugi. Dari itu masyarakat petani sawit meminta dewan memfasilitasi menjembatani dengan pihak perusahaan tentang hal tersebut, “ujarnya.

Parman berharap bersama-sama bisa memangkas rantai penjualan agar tidak terlalu panjang, ia menyebutkan telah menyarankan petani menjalin kemitraan langsung dengan perusahaan agar bisa jual langsung ke pabrik. Solusi lain petani kerja sama dengan BUMDes, nanti BUMDes yang langsung berhubungan dengan pabrik,” paparnya.

Sementara itu, pihak perusahaaan yang hadir mengungkapkan tidak bisa mengikuti harga beli sawit sesuai dengan ketetapan tim pemerintah. Karena bisa mengancam keberadaan perusahaan dan akhirnya perusahaan bisa tutup,” kata Bambang salah satu wakil perusahaan kelapa sawit.

Perusahaan kelapa sawit di daerah itu keberatan membeli sawit sesuai dengan harga ketetapan karena sulitnya mereka menjual minyak mentah kelapa sawit atau CPO, rendahnya kualitas buah petani sehingga berimbas kepada hasil produksi pabrik CPO dan kapasitas tangki timbun di pabrik penuh, “ungkapnya.

Tetapi pihak perusahaan akan berjanji membawa permasalahan ini ke tingkat tinggi manajemen perusahaannya dan berharap bisa membantu pemerintah daerah dalam mengatasi persoalan harga TBS dari petani setempat.

Relddn/hms

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *